Akankah Selamanya Kita Menjadi Penonton Piala Dunia?

Akankah Selamanya Kita Menjadi Penonton Piala Dunia

Akankah Selamanya Kita Menjadi Penonton Piala Dunia? – Kita sudah mengetahui hasil undian Piala Dunia 2014, Brazil. Beberapa hasilnya cukup mengejutkan. Beberapa lagi sudah kita tebak akan seperti itu hasilnya. Bagaimana Brazil sebagai tuan rumah diprediksi akan melaju mulus melewati lawan-lawannya di grup A. Bagaimana kemudian Belanda harus bentrok dengan Spanyol di grup B, sebuah undian yang mengejutkan banyak orang kalau ini. Kita bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana ekspresi para pelatih yang menghadiri undian tersebut. Kita kemudian dapat juga menonton lewat layar kaca perubahan raut muka para kapten tim nasional yang juga hadir pada pengundian kemarin. Mereka adalah penghibur lapangan yang bisa kita saksikan di layar monitor perangkat kita.

Negara kita, Indonesia, memang sudah sejak lama masuk kotak gagal melaju ke putaran final Piala Dunia. Indonesia gagal bersaing dengan para raksasa sepak bola lain seperti China dan Kuwit serta tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar. Padahal negara kita termasuk negara sepak bola kalau ukurannya adalah jumlah penonton di stadion dan tayangan di rumah. Indonesia harus sekali lagi mengubur mimpi untuk berlaga ke Piala Dunia karena pada akhirnya gagal melaju bahkan ke babak grup kualifikasi untuk menentukan negara mana yang akan lolos dari zona Asia. Dan pada akhirnya sekali lagi tidak ada tim nasional negara kita tercinta di Piala Dunia.

Mungkin seorang pendukung sejati tim nasional Indonesia akan sedih menghadapi kenyataan ini. Lalu kemudian pada akhirnya tetap terlupa bahwa tidak ada Indonesia di Piala Dunia karena dia lalu terlalu asyik menyaksikan aksi tari tango dari para pemain Argentina, keindahan Jogo Bonito dari Brazil atau tiki taka ala Spanyol. Tidak ada formasi 3-5-2 ala tim Garuda. Tidak ada Boaz Salossa bermain di sana atau kita tidak bisa melihat aksi Andik Vermansyah melawan para pemain bintang seperti Neymar atau Lionel Messi. Mereka sama-sama muda tetapi dengan nasib berbeda. Satu dilahirkan di negara kuat sepak bola. Lainnya hanya dilahirkan di negara yang suka sepak bola.

Sampai kapan kita akan menjadi penonton? Pertanyaan yang harus kita semua jawab. Karena bukan hanya tanggung jawab PSSI semata untuk memajukan sepak bola. Tetapi yang paling awal adalah ubahlah diri kita sendiri dulu. Maukah kita bekerja keras sehingga persepak bolaan negara kita menjadi maju? Sudikah waktu kita akan terbuang demi mengurusi sepak bola?  Ketika kita sudah mau dan sudi, maka, baru mengurusi induk organisasi. Kalau mereka masih juga berulah padahal di arus bawah sudah baik semua maka haruslah PSSI seperti ini yang harus diganti. Ganti dengan mereka yang benar-benar tulus dan murni mencintai sepak bola bukan hanya sekadar keinginan mendapatkan keuntungan semata.